Your Cart 3

  • Marketing Course
    Brief description
    $120
  • Strategy Course
    Brief description
    $80
  • Digital Course
    Brief description
    $50
  • Total (USD) $250

Search

Tandem Hilir Ii, Kec. Hamparan Perak

Membangun Desa Lewat Udara: Kisah Muhammad Hidayat Berdayakan Masyarakat Melalui Radio Komunitas

Membangun Desa Lewat Udara: Kisah Muhammad Hidayat Berdayakan Masyarakat Melalui Radio Komunitas
Hamparan Perak — Upaya pemberdayaan masyarakat desa tidak selalu harus menggunakan teknologi mutakhir yang mahal. 
Di tangan Muhammad Hidayat, sebuah media penyiaran sederhana seperti radio komunitas mampu menjadi motor penggerak perubahan sosial, pelestarian lingkungan, hingga penjaga kebudayaan lokal di Sumatra Utara.
Sebagai penggiat yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) wilayah Sumatra Utara, ia telah menginisiasi sekitar 5 hingga 7 radio komunitas.
"Prinsip dasar dari radio komunitas adalah dari, oleh, dan untuk masyarakat itu sendiri," ujar Hidayat.
Berbeda dengan radio komersial, media ini tidak mencari keuntungan finansial, melainkan fokus pada pembangunan wacana, penyadaran masyarakat, dan pengorganisasian tindakan nyata untuk menjawab isu lokal yang berkembang.

Aksi Nyata untuk Lingkungan dan Pertanian
Manfaat konkret dari keberadaan radio komunitas ini sudah sangat dirasakan. Hidayat mencontohkan Mitra FM, radio komunitas yang didirikan di Desa Tandem Hilir 2, Kecamatan Hamparan Perak pada Agustus 2006.
Di daerah tersebut, siaran radio berhasil menggerakkan swadaya masyarakat untuk melakukan rehabilitasi lingkungan, termasuk menanam minimal 4.000 pohon mahoni di daratan serta pohon bakau (mangrove) di kawasan pantai dan gambut.
Selain isu lingkungan, konten siaran disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Pada komunitas petani sawah misalnya, radio menjadi wadah untuk mendiskusikan ketersediaan pupuk, harga pasar, dan edukasi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia berbahaya yang mengganggu kesehatan.
Menghidupkan Budaya Lokal Tanpa Batasan Usia
Model serupa juga diterapkan di Radio Bahana FM 107,7 MHz yang berlokasi di Desa Sambirejo Timur, Percut Sei Tuan, Deli Serdang.
Meski baru mengudara beberapa bulan saat tayangan tersebut dibuat, antusiasme warga sangat tinggi.
Tidak ada batasan usia untuk berkontribusi; mulai dari pemuda hingga lansia aktif menjadi pengelola dan penyiar tanpa bayaran, melainkan atas dasar kerelaan hati.
Keunikan lain dari radio komunitas ini adalah kebanggaan terhadap lokalitas.
Di tengah gempuran tren luar, radio komunitas justru menghidupkan kembali kesenian tradisional yang mulai jarang tampil di media mainstream, seperti musik keroncong
Logat dan dialek daerah juga tetap dipertahankan sebagai jati diri.
"Kami apa adanya. Di beberapa tempat, penyiar yang habis mencari rumput bisa langsung siaran ke studio tanpa perlu baju cantik atau wewangian," tambah Hidayat sambil tersenyum.
Terkendala Perizinan, Berharap Dukungan Pemerintah
Meski membawa dampak positif yang nyata bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kebersamaan warga, gerakan radio komunitas masih menghadapi jalan berliku.
Kendala terbesar yang dihadapi saat ini adalah masalah kelembagaan dan ketatnya birokrasi perizinan.
Hidayat berharap pemerintah, khususnya Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), dapat memberikan kelonggaran dan mempermudah izin operasional rakom.
Menurutnya, visi radio komunitas sejatinya sangat strategis dalam mempercepat dan mendukung program pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah itu sendiri.
Ke depan, melalui JRKI Sumatra Utara, Hidayat bersama rekan-rekan penggiat lainnya berkomitmen untuk terus melakukan penguatan di tingkat tapak, membantu masyarakat yang ingin mendirikan radio komunitas mandiri, serta mengadvokasi kebijakan penyiaran yang lebih berpihak pada pemenuhan hak informasi masyarakat desa.